02 June 2009
30 April 2009
Joint Venture With University
Joint Venture artinya kurang lebih kerjasama. Jadi, judulnya sama saja kerjasama dengan Universitas. Lantas, siapa yang bekerjasama? Ya, klub-klub di ISL dong! Mengapa harus kerjasama? Ya, karena kebutuhan.
Bisa pusing kalau membaca intermezzo di atas.
25 April 2009
Urgensinya Pelatih Junior
Percuma saja banyak potensi, tapi tidak mampu menggali. Ya, itulah gambaran regenerasi sepak bola di tanah air. Banyak pemain remaja bertalenta tumpah ruah di Indonesia. Itu fakta! Tapi, mengapa prestasi sepak bola Indonesia tak mengalami kemajuan secara signifikan?
Melihat latar belakang tersebut, kualitas pelatih junior –pelatih SSB atau pelatih klub junior- patut dipertanyakan. Masih banyak pelatih junior di negeri ini yang belum memiliki SDM yang memadai. Tangan dinginnya belum mampu mencetak pemain-pemain yahud.
Hanya mencari kambing hitam memang, jika hanya mengkritik tanpa memberikan saran. Untuk itu, usul saya kepada PSSI agar memberikan semacam beasiswa kepada para pelatih untuk menimba ilmu di negara-negara kiblat sepak bola, yaitu eropa maupun amerika latin. Tentunya, beasiswa ini harus konsisten. Tidak hanya sekali. Mengapa? Karena sepak bola terus mengalami perkembangan. Baik dari segi teknik maupun non-teknik. Sehingga kita harus up to date.
Jadi, eksistensi pelatih-pelatih junior yang berkualitas sangatlah urgen. Merekalah yang membentuk karakter dan mental pemain sejak remaja.
Melihat latar belakang tersebut, kualitas pelatih junior –pelatih SSB atau pelatih klub junior- patut dipertanyakan. Masih banyak pelatih junior di negeri ini yang belum memiliki SDM yang memadai. Tangan dinginnya belum mampu mencetak pemain-pemain yahud.
Hanya mencari kambing hitam memang, jika hanya mengkritik tanpa memberikan saran. Untuk itu, usul saya kepada PSSI agar memberikan semacam beasiswa kepada para pelatih untuk menimba ilmu di negara-negara kiblat sepak bola, yaitu eropa maupun amerika latin. Tentunya, beasiswa ini harus konsisten. Tidak hanya sekali. Mengapa? Karena sepak bola terus mengalami perkembangan. Baik dari segi teknik maupun non-teknik. Sehingga kita harus up to date.
Jadi, eksistensi pelatih-pelatih junior yang berkualitas sangatlah urgen. Merekalah yang membentuk karakter dan mental pemain sejak remaja.
Labels:
football solution
21 March 2009
Masih Tertinggal Jauh
Kekalahan Sriwijaya atas Shandong Luneng dalam lanjutan Liga Champion Asia (17/3) dengan skor 0-5 menunjukkan bahwa mutu sepakbola Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara Tirai Bambu. Jangankan dengan Cina, Vietnam saja sudah berhasil menyalip kita. Ada apa ini?
Sulit untuk mencari akar permasalahannya. Sangat kompleks! Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. PSSI harus bekerja ekstra keras demi kemajuan sepakbola di tanah air.
Segala handicap sepakbola di negeri ini harus disari solusinya!
Sulit untuk mencari akar permasalahannya. Sangat kompleks! Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. PSSI harus bekerja ekstra keras demi kemajuan sepakbola di tanah air.
Segala handicap sepakbola di negeri ini harus disari solusinya!
18 February 2009
Indonesia 2022
Pembaca blog yang budiman. Marilah kita dukung Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022(baca: Dua puluh Dua-Dua). Jelas kita harus mendukung! Mengapa? Dengan menjadi tuan rumah, akan mempromosikan Indonesia di dunia internasional. Indonesia juga bisa bersaing dengan negara-negara lain. Meksiko dan Brazil yang kondisi perekonomiannya tak jauh beda dengan kita nyatanya juga bisa menjadi tuan rumah PD. Kita juga harus bisa. Setuju Bung Nurdin!
Menjadi tuan rumah Piala Dunia juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan mengurangi pengangguran. Pembangunan infrastruktur -stadion, transportasi, komunikasi, dll yang relevan- tentulah membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit.
Disamping itu masyarakat yang memiliki keterampilan juga ketiban rejeki. Misalkan, orang yang fasih english bisa menjadi guide atau pengusaha souvenir memproduksi pernak-pernik. Dan masih banyak lagi. Benar-benar multiplier effect.
Untuk PSSI, melakukan lobi ke sejumlah negara -terutama negara di eropa maupun amerika latin- adalah keharusan. Yakinkanlah mereka bahwa Republik Indonesia mampu menjadi tuan rumah Piala Dinia 2022.
Good luck, PSSI!
Menjadi tuan rumah Piala Dunia juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan mengurangi pengangguran. Pembangunan infrastruktur -stadion, transportasi, komunikasi, dll yang relevan- tentulah membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit.
Disamping itu masyarakat yang memiliki keterampilan juga ketiban rejeki. Misalkan, orang yang fasih english bisa menjadi guide atau pengusaha souvenir memproduksi pernak-pernik. Dan masih banyak lagi. Benar-benar multiplier effect.
Untuk PSSI, melakukan lobi ke sejumlah negara -terutama negara di eropa maupun amerika latin- adalah keharusan. Yakinkanlah mereka bahwa Republik Indonesia mampu menjadi tuan rumah Piala Dinia 2022.
Good luck, PSSI!
Labels:
hot news
15 February 2009
Nutrisi
Pemain bola di Indonesia pada nggak profesional. Pola makan mereka tidak sesuai standar. Maunya yang penting enak. Idih...padahal yang enak belum tentu bergizi. Mereka seharusnya sadar bahwa mengatur pola makan itu penting. Perhatikan nutrisi dan gizi donk! Agar fisik kuat 90 menit plus loss time! Masak pemain bola makannya mie ayam, gorengan, dan apalah masih banyak lagi. Inilah sebab mengapa pemain-pemain kita sering ngos-ngosan kalau di lapangan padahal waktu masih panjang. Dan inilah yang menjadi sebab pemain-pemain kita memiliki postur pendek. Kalo pindah masalah postur, berarti peran orang tua mutlak diperlukan. Jika seorang anak memiliki cita-cita menjadi pemain bola, orang tua harus mendukung. Caranya, ya, seperti itu tadi. Berikan makanan yang bergizi tinggi. Singkatnya 4 sehat 5 sempurna. Tambah susu gitu. Hehehe... betul nggak.
ATACANTE!!!
ATACANTE!!!
Labels:
dagelan football
22 October 2008
Merevolusi Sepakbola Indonesia
Ada resep yang dapat membuat maju sepak bola tanah air, revolusi PSSI. Pertama, semua anggota PSSI yang "payah" dilengserkan saja. Ganti dengan orang-orang yang benar-benar peduli sepakbola Indonesia. Tak jadi masalah mereka bukan mantan pemain bola. Yang terpenting adalah paham kondisi sepak bola di negeri ini. Kedua, adakanlah kompetisi tingkat remaja secara masif. Karena kompetisi remaja di Indonesia sangat kurang! Adakanlah dari tingkat grass roots sampai pra dewasa. Tentu saja, rutin dan berskala nasional. Semua SSB (sekolah sepak bola) di Indonesia dapat berpartisipasi. Dengan begitu, pemain yang selama ini terkekang oleh ruang dan waktu dapat menunjukkan bakatnya. Ketiga, SDM pelatih junior harus di-up grade! Eksistensi pelatih junior yang berkualitas sangat urgen. Merekalah yang membentuk karakter dan mental pemain sejak remaja. Caranya, undang pelatih junior dari luar atau sekolahkan mereka khusus pelatih junior. Memang, wacana ini mungkin tidak mudah direalisasikan. Akan lebih efisien jika PSSI memiliki pelatnas. Pemain remaja yang berbakat tarik saja ke pelatnas. Dalam pelatnas pemain-pemain tersebut ditangani oleh orang-orang yang ahli di bidang olahraga. Sistem pelatnas menggunakan promosi degradasi.
Bagaimana inovatif, kan?
Bagaimana inovatif, kan?
Labels:
football solution
Subscribe to:
Posts (Atom)

